Jumat, 11 Juli 2008

AJARAN UNTUK SUKSES

AJARAN SUKSES I

Bermimpi
[ setiap hari ]

di belakangku ada kekuatan
tak terbatas
di depanku ada kemungkinan
tak berakhir
di sekelilingku ada kesempatan
tak terhitung
mengapa aku harus takut ?


AJARAN SUKSES II

Enam rahasia sukses

1. Tidak ada rahasia sukses, sukses adalah untuk semua orang
2. Hidup Anda menjadi lebih baik hanya jika Anda menjadi lebih baik
3. Tidak ada sukses tanpa pengorbanan
4. Sukses diperoleh dalam ukuran senti bukan kilometer
5. Musuh terbesar dari kesuksesan besok hari adalah kesuksesan hari ini
6. Tidak ada nasihat sukses yang berhasil sampai Anda melakukannya.


AJARAN SUKSES III

Yang banyak Dicari adalah:

Orang yang lebih banyak meningkatkan
Dan lebih sedikit menolak.

Yang lebih banyak melaksanakan
Dan lebih sedikit pembicaraan.

Yang lebih banyak berkata itu bisa dilakukan
Dan lebih sedikit yang berkata itu mustahil.

Lebih banyak yang mengobarkan semangat orang lain
dan lebih sedikit yang memadamkan semangat orang lain.

Lebih banyak masuk ke dalam suatu aktivitas
Dan lebih sedikit yang tinggal di sampingnya.

Lebih banyak yang menunjukkan apa yang benar
Dan lebih sedikit yang menuding apa yang salah.

Lebih banyak yang menyalakan lilin dan
Lebih sedikit yang mengutuk kegelapan.


AJARAN SUKSES IV

Pintu Menuju Kesempatan

Kesempatan-kesemptan dan motivasi berkaitan
Orang-orang yang termotivasi melihat kesempatan-kesempatan,
dan kesempatan-kesempatan yang biasanya memotivasi orang-orang

Kebiaasaan-kebiasaan baik mendahului kesempatan- kesempatan bagus. Siapa diri Anda menentukan apa yang Anda lihat

Hari ini adalah hari terbaik untuk sebuah kesempatan.
Kesempatan selalu menjawab dengan “Sekarang”.

Kesempatan-kesempatan adalah hasil dari keberanian, Bukan keberuntungan.
Orang-orang sukses mencari kesempatan-kesempatan, dan apabila mereka tidak dapat menemukannya, mereka menciptakannya.

Kesempatan tanpa komitmen akan berlalu.
Kesempatan-kesempatan yang tertunda tidak pernah hilang-mereka hanya
direbut dalam persaingan.

Kesempatan-kesempatan dilahirkan oleh Persoalan-persoalan.
Jika Anda mencari kesempatan yang BESAR, Carilah persoalan yang BESAR.

Kesempatan-kesempatan bisa berlipat-ganda atau lenyap. Semakin Anda mengejar kesempatan-kesempatan
Semakin banyak yang Anda lihat di belakang mereka.

PUISI KARYA KHALIL GIBRAN MENGENAI BEKERJA

PUISI KARYA KHALIL GIBRAN MENGENAI BEKERJA
……………….
selama ini kau dengar orang berkata bahwa hidup adalah kegelapan
dan dalam keletihanmu kau tirukan kata-kata mereka yang lelah

namun aku berkata bahwa hidup memang kegelapan kecuali: jika ada dorongan
dan semua dorongan buta belaka, kecuali: jika ada pengetahuan
dan segala pengetahuan adalah hampa, kecuali: jika ada pekerjaan
dan segenap pekerjaan adalah sia-sia, kecuali: jika ada kecintaan

jikalau kau bekerja dengan rasa cinta,
engkau menyatukan dirimu dengan dirimu,
kau satukan dirimu dengan orang lain, dan sebaliknya,
serta kau dekatkan dirimu kepada Tuhan

dan apakah yang dinamakan bekerja dengan rasa cinta?
laksana menenun kain dengan benang yang ditarik dari jantungmu,
seolah-olah kekasihmulah yang akan mengenakan kain itu

bagai membangun rumah dengan penuh kesayangan,
seolah-olah kekasihmulah yang akan mendiaminya dimasa depan.

seperti menyebar benih dengan kemesraan, dan memungut panen dengan kegirangan,
seolah-olah kekasihmulah yang akan makan buahnya kemudian.

……………..

seringkali ku dengar engkau berkata-kata, laksana menggumam dalam mimpi,
“dia yang bekerja dengan bahan pualam, dan menemukan didalamnya bentuk jiwanya sendiri, lebih tinggi martabatnya daripada dia, si pembajak sawah.”
“dan dia yang menangkap pelangi dilangit untuk dilukis warnanya, menyerupai citra manusia, diatas kain, derajatnya lebih mulia dari dia, si pembuat sandal kita”

namun aku berkata, tidak didalam tidur, melainkan dikala jaga sepenuhnya, ketika matahari tinggi, bahwa angin berbisik tidak lebih mesra di pohon jati raksasa, daripada di rerumputan yang paling kecil dan tanpa arti.
dan hanya dialah sungguh besar, yang menggubah suara angin, menjadi sebuah simponi, yang makin agung karena kasih sayangnya.

kerja adalah kerja yang mengejawantah.

dan jika kau tiada sanggup bekerja dengan cinta, hanya dengan enggan, maka lebih baiklah jika engkau meninggalkannya, lalu mengambil tempat didepan gapura candi, meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan suka cita.

sebab bila kau memasak roti dengan rasa tertekan, maka pahitlah jadinya dan setengah mengenyangkan.

bilamana kau menggerutu ketika memeras anggur, gerutu itu meracuni air anggur.
dan walupun kau menyanyi dengan suara bidadari, namun hatimu tiada menyukainya, maka tertutuplah telinga manusia dari segala bunyi-bunyian siang dan suara malam hari.

MEMELIHARA MOTIVASI KERJA

MENJAGA MOTIVASI KERJA
MENGELOLA ANTUSIASI

Kerjakanlah hal yang anda sukai dan sukailah hal yang
anda kerjakan,…………..
Maka akan anda dapati bahwa anda serasa tak
perlu bekerja seharipun sepanjang hidup anda

Semua itu karena …………..
Dengan mencintai pekerjaan anda,
Pekerjaan menjadi menyenangkan bagi siapapun
Termasuk bagi yang melakukan

MENINGKATKAN CITRA DIRI

MENINGKATKAN CITRA DIRI

1. Berbuatlah yang terbaik untuk diri sendiri dan orang lain
2. Berpenampilan yang menarik
3. Jangan berpura-pura
4. Terimalah diri anda sebagaimana adanya
5. Mencintai/mengasihi sesama
6. Selalu yakin pada kemampuan dan kekuatan diri
7. Selalu berpikir dan bertindak positif
8. Berkomunikasi dengan semua orang dengan baik
9. Tahu sopan santun (do as the romans do)

KOMUNIKASI EFEKTIF

15 KIAT BERKOMUNIKASI YANG EFEKTIF

1. Berbicara dengan nada yang datar dan wajar
2. Dengarkan dulu sebelum minta didengarkan
3. Gunakan bahasa yang jelas dan umum
4. Jangan menukas pembicaraan orang lain tanpa permisi
5. Bicaralah secara jujur dan terbuka
6. Bicaralah dengan bahasa kasih
7. Bicaralah hal-hal yang konstruktif
8. Hindari membicarakan keburukan atau kekurangan orang lain dalam forum yang bukan semestinya
9. Hindari pandangan negatif terhadap orang lain
10. Berbicaralah dari hati ke hati
11. Hindari berargumentasi /debat yang tidak berguna
12. Hargailah pendapat orang lain
13. Jangan ragu mengemukakan pendapat
14. Selalu berfikir positif
15. Hindari pembicaraan yang dapat menimbulkan friksi

KOMPETENSI KEBERHASILAN

14 KOMPETENSI UNTUK KEBERHASILAN

1. ORIENTASI TERHADAP HASIL

a. Membuat rencana kerja secara jelas dan terukur
b. Menciptakan sistim atau cara-cara yang lebih efisien.
c. Mencari kesempatan untuk menyederhanakan peraturan peraturan
d. Melakukan tindakan-tindakan yang efektif dan efisien
e. Menghindari banyak bicara yang tak berguna, mementingkan kerja.
f. Memfokuskan diri pada hasil yang hendak dicapai
g. Menghargai waktu demi mencapai hasil yang tinggi
h. Setiap pekerjaan memiliki hasil yang jelas/terukur

2. INISIATIF

a. Mengambil tindakan untuk memecahkan masalah sebelum diminta atau sebelum situasi memintanya.
b. Menerima atau mencari tugas-tugas tambahan dan tanggung jawab yang sifatnya menantang.
c. Berusaha dengan sungguh-sungguh tanpa mengenal waktu untuk menyelesaikan suatu tugas.
d. Terus menerus melakukan inisiatif-inisiatif yang penting meskipun tanpa adanya bantuan atau dukungan dari orang lain didalam organisasi/perusahaan.
e. Menemukan cara-cara atau ide-ide yang dapat meningkatkan organisasi atau perusahaan.
f. Mengisi waktu kosong dengan tindakan-tindakan yang berguna yang dapat meningkatkan citra perusahaan

3. MEMBUAT DIAGNOSA SECARA TEPAT

a. Menemukan hal yang tidak konsisten atau menyimpang
b. Menemukan persoalan pokok didalam situasi yang kompleks.
c. Mengumpulkan informasi dari beberapa sumber sebagai dasar untuk membuat rekomendasi.
d. Mampu mengemukakan suatu masalah yang ditemukan

4. BERPIKIR DAN BERTINDAK SISTIMATIS

a. Membuat rencana formal atau mengorganisir kerangka kerja, untuk membahas dan menelusuri masalah (misalnya: rencana kerja).
b. Mengatur dan menyimpan data berdasarkan katagori kepentingan dan katagori subyek yang akan memudahkan saat pencarian untuk diperlukan
c. Berpikir dan berbuat berdasarkan prioritas
d. Mengerjakan pekerjaan berurutan Berdasarkan kepentingan
e. Menyajikan usulan atau pendapat secara singkat dan jelas
f. Mendahulukan pekerjaan-pekerjaan yang penting

5. BERPIKIR KEDEPAN

a. Membuat rencana jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan -kebutuhan khusus dan mencapai target-target yang yang dikehendaki Perusahaan.
b. Mencari cara-cara untuk memperkecil terjadinya hasil hasil yang kurang memuaskan dimasa mendatang
c. Mencari cara-cara untuk memperoleh hasil-hasil yang lebih baik dimasa mendatang.

6. PEDULI TERHADAP CITRA YANG POSITIF

a. Mengerjakan hal-hal yang dapat meningkatkan citra Perusahaan.
b. Mengetahui pentingnya kesan-kesan yang diciptakannya terhadap orang lain pada setiap situasi.
c. Mengembangkan dan memelihara citra yang positif dengan para pelanggan/karyawan lainnya.
d. Menjaga citra diri selalu positif

7. STRATEGI DALAM MEMBERIKAN PENGARUH

a. Menghubungi langsung para pemegang keputusan atau pihak-pihak yang berpengaruh agar dapat melaksanakan pekerjaannya.
b. Memanfaatkan situasi non-formal untuk mempercepat penyelesaian objective perusahaan.
c. Menyediakan diri untuk berdiskusi atau negosiasi supaya dapat menyatukan perbedaan-perbedaan pendapat atau memecahkan masalah.
d. Membuat rencana untuk mempengaruhi seseorang atau kelompok yang berperan.
e. Membuat dan menjaga hubungan dengan orang-orang yang memegang peranan didalam maupun diluar organisasi yang dapat memberikan informasi yang diperlukan.

8. DAYA TANGGAP DALAM BERINTERAKSI

a. Membaca reaksi atau perasaan orang dalam suatu situasi.
b. Mengetahui cara berhubungan dengan orang yang mempunyai posisi dan latar belakang yang berbeda.
c. Mengingatkan orang lain atas kesan negative yang pernah dilakukan
d. “Tepo seliro”/tenggang rasa
e. Gunakan bahasa yang Sesuai dengan tingkat orang yang diajak bicara
f. Hindarkan kata-kata yang dapat menyinggung perasaan orang lain
g. Hindarkan menekankan suatu kehendak pada orang lain.
h. Hindarkan kebiasaan berseloroh.

9. KOMUNIKASI YANG BAIK DAN JELAS

a. Menyajikan informasi yang jelas dan dapat dimengerti oleh orang lain.
b. Membuat argumentasi dengan memperhatikan kepentingan orang lain.
c. Memberikan perintah kerja dengan jelas.
d. Berbicara dengan nada suara yang jelas dan tidak terkesan membentak
e. Bertanya jika ada sesuatu yang tidak jelas
f. Mampu memberikan sumbang saran yang konstruktif.
g. Hindari menukas pembicaraan orang lain
h. Mengerti dulu baru minta di mengerti

10. ORIENTASI TERHADAP PELAYANAN

a. Menyajikan pilihan-pilihan untuk membantu atasan dalam memecahkan suatu masalah.
b. Menghargai problem pelanggan dan menyediakan alternatif untuk pemecahannya.
c. Mengenal posisi staff sebagai penasehat yang memberikan pelayanan pada tingkat manager.
d. Selalu memperlakukan pelanggan sebagai raja
e. Bertindak cepat dalam melayani pelanggan

11. PEDULI TERHADAP STANDARD PROFESSIONAL

a. Memastikan bahwa informasi yang diperoleh akurat, lengkap dan memenuhi kriteria Completed Staff Work.
b. Menyiapkan rapat atau presentasi dengan dokumen, yaitu dari angka-angka dan praktek yang memadai.
c. Memelihara kerahasiaan informasi yang penting.
d. Bekerja atas dasar standar-standar yang telah ditentukan

12. MENGEMBANGKAN ORANG LAIN

a. Membuat pedoman dan memberi nasehat untuk membantu mengembangkan keahlian dan kemampuan orang lain.
b. Menyediakan kesempatan untuk tukar menukar gagasan, praktek dan umpan balik untuk mengembangkan keahlian khusus orang lain.
c. Mendidik dan mengajar orang lain didalam grup
d. Mampu memberi saran-saran untuk peningkatan diri orang lain

13. PERCAYA DIRI

a. Menunjukkan tingkat keyakinan diri yang tinggi didalam mengambil keputusan.
b. Bangga terhadap pekerjaan dan keahliannya.
c. Tetap tenang dan objektif didalam situasi yang stress.
d. Mampu menyampaikan gagasan atau ide didepan rapat
e. Mampu berbicara dengan baik di depan forum

14. PENGEMBANGAN DIRI SENDIRI
Mencari kesempatan dan sarana untuk mengembangkan keahlian dan pengetahuan professional.
Menilai unjuk kerjanya sendiri dan mencari umpan balik untuk mengembangkan diri sendiri.

TEORI KEPEMIMPINAN



KEPEMIMPINAN
oleh:
Drs. Bambang Widodo, MM
I. PENGERTIAN

Definisi kepemimpinan menurut seorang pakar manajemen Kreitner, adalah proses mempengaruhi sekelompok orang dengan tujuan untuk menciptakan keikutsertaan mereka secara sukarela dalam upaya mencapai tujuan perusahaan

Paul Hersey, seorang tokoh dan penulis buku the Situational Leader menyebut Kepemimpinan adalah segala upaya atau usaha untuk mempengaruhi perilaku orang lain secara individu maupun kelompok.

Kedua definisi tersebut meski agak berbeda, namun saling melengkapi. Definisi pertama menekankan pada unsur keikut sertaan tanpa paksaan untuk mencapai tujuan organisasi. Sedangkan yang kedua, menekankan pada usaha untuk mempengaruhi perilaku orang lain untuk mencapai tujuan.

Seorang pemimpin, menurut pengertian di atas, harus memadukan unsur-unsur kekuatan diri, wewenang yang dimiliki, ciri-ciri kepribadian dan kemampuan sosial untuk bisa mempengaruhi perilaku orang lain.

Ada pemimpin formal dan informal. Pemimpin formal, memiliki kekuasaan dan kekuatan formal yang ditentukan oleh organisasi. Sedangkan pemimpin informal, walaupun tidak memiliki legitimasi kekuatan dan kekuasaan resmi, namun memiliki kemampuan mempengaruhi yang besar, yang disebabkan oleh kekuatan pribadinya.

II. TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN

1. Teori Genetik (Genetic Theory)
Penjelasan kepemimpinan yang paling tua adalah teori kepemimpinan “genetic” dengan ungkapan yang sangat populer waktu itu yakni “a leader is born, not made”. Seorang dilahirkan dengan membawa sifat-sifat kepemimpinan dan tidak perlu belajar lagi. Sifat-sifat utama seorang pemimpin diperoleh secara genetik dad orang tuanya.

2. Teori Sifat (Trait Theory)
Sesuai dengan namanya, maka teori ini mengemukakan bahwa efektivitas kepemimpinan sangat tergantung pada kehebatan karakter pemimpin. “Trait” atau sifat-sifat yang dimiliki antara lain kepribadian, keunggulan fisik dan kemampuan social.

Penganut teori ini yakin dengan memiliki keunggulan karakter di atas, maka seseorang akan memiliki kualitas kepemimpinan yang baik dan dapat menjadi pemimpin yang efektif.

Karakter yang harus dimiliki oleh seseorang menurut Judith R. Gordon mencakup kemampuan yang istimewa dalam (1) Kemampuan Intelektual (2) Kematangan Pribadi (3) Pendidikan (4) Status Sosial dan Ekonomi (5) “Human Relations” (6) Motivasi Intrinsik dan (7) Dorongan untuk maju (achievement drive).

Ronggowarsito, menyebutkan seorang pemimpin harus memiliki Hastabrata, yakni delapan sifat unggul seorang pemimpin yang dikaitkan dengan sifat-sifat alam.

(1) Bagaikan surya
§ menerangi dunia dan memberi kehidupan
§ menjadi penerang dan pembuat senang.
§ arif, jujur, adil dan rajin bekerja, sehingga negara aman sentausa.

(2) Bagaikan candra atau rembulan
§ memberikan cahaya penerangan dan keteduhan pada hati yang tengah dalam kesulitan.
§ bersifat melindungi, sehingga setiap orang dapat tekun menjalankan tugas masing-masing.
§ Memberikan udara ketenangan.

(3) Bagaikan kartika atau bintang
§ menjadi pusat pandangan, selaku sumber kesusilaan
§ menjadi kiblat ketauladanan dan sumber pedoman.

(4) Bagaikan mega atau awan
§ menciptakan kewibawaan
§ mengayomi meneduhi sehingga semua tindakannya menimbulkan ketaatan.

(5) Bagaikan bumi
§ teguh dan kokoh pendiriannya
§ bersahaja dalam ucapannya.

(6) Bagaikan samudra
§ luas pandangan, lebar dadanya
§ dapat membuat rakyat seia sekata.

(7) Bagaikan hagni atau api
§ adil, menghukum tanpa memandang bulu
§ yang salah menjalankan hukuman, yang bajik mendapat pahala.
(8) Bagaikan bayu atau angin
§ Ambeg adil dan jujur
§ terbuka, tidak ragu-ragu

Berdasarkan penjelasan di atas, maka karakter istimewa yang harus dimiliki oleh seseorang, mencakup karakter bawaan (inborn) dan karakter yang diperoleh dan dikembangkan kemudian.

3. Teori Perilaku (The Behavioral Theory)
Mengacu pada keterbatasan peramalan efektivitas kepemimpinan melalui teori “trait”, para peneliti pada era Perang Dunia ke II sampai era di awal tahun 1950-an mulai mengembangkan pemikiran untuk meneliti “behavior” atau perilaku seorang pemimpin sebagai cara untuk meningkatkan efektivitas kepemimpinan.
Fokus pembahasan teori kepemimpinan pada periode ini beralih dari siapa yang memiliki kemampuan memimpin ke bagaimana perilaku seseorang untuk memimpin secara efektif.

4. Situasional Leadership
Pengembangan teori situasional merupakan penyempurnaan dan kekurangan teori-teori sebelumnya dalam meramalkan kepemimpinan yang paling efektif.

Dalam “situational leadership” pemimpin yang efektif akan melakukan diagnose situasi, memilih gaya kepemimpinan yang efektif dan menerapkannya secara tepat.

Seorang pemimpin yang efektif dalam teori ini harus bisa memahami dinamika situasi dan menyesuaikan kemampuannya dengan dinamika situasi yang ada.

Empat dimensi situasi yakni kemampuan manajerial, karakter organisasi, karakter pekerjaan dan karakter pekerja. Keempatnya secara dinamis akan memberikan pengaruh terhadap efektivitas kepemimpinan seorang.

Dimensi situasi tersebut secara skematis digambarkan sebagai berikut:

— Kemampuan Manajerial
Merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan seseorang. Kemampuan manajerial meliputi kemampuan teknikal, kemampuan sosial, pengalaman, motivasi dan penilaian terhadap “reward” yang disediakan oleh perusahaan.

— Karakteristik Pekerjaan.
Merupakan unsur kedua terpenting yang mempengaruhi efektivitas kepemimpinan.

Pekerjaan yang penuh tantangan akan membuat seseorang lebih bersemangat untuk berprestasi dibanding pekerjaan rutin yang membosankan. Juga tingkat kerja sama kelompok yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan akan sangat mempengaruhi efektivitas seorang pemimpin.

— Karakteristik Organisasi
Budaya Korporat, kebijakan dan birokrasi bisa membatasi gaya kepemimpinan seorang manajer. Juga bila di dalam suatu organisasi banyak terdapat profesional dan kelompok ahli. maka gaya kepemimpinan yang efektif tentu berbeda dengan organisasi perusahaan yang terdiri dari para pekerja kasar.

— Karakteristik Pekerja
Meliputi kepribadian, kebutuhan, pengalaman dari para pegawai akan mempengaruhi efektivitas kepemimpinan manajer.

Karena pendekatan kontingensi ini menekankan pentingnya penyesuaian terhadap situasi, maka seorang pemimpin harus menghayati sepenuhnya kenyataan adanya perbedaan individual yang ada pada setiap pegawai. Motivasi pegawai yang sangat mempengaruhi motivasi kerja perlu mendapatkan perhatian dari setiap pemimpin.

5. Transformational Leadership
Pemikiran terakhir mengenai kepemimpinan yang efektif disampaikan oleh sekelompok ahli yang mencoba “menghidupkan” kembali teori “trait” atau sifat-slfat utama yang dimiliki seseorang agar dia bisa menjadi pemimpin.

Robert House menyampaikan teori kepemimpinan dengan menyarankan bahwa kepemimpinan yang efektif mempergunakan dominasi, memiliki keyakinan diri, mempengaruhi dan menampilkan moralitas yang tinggi untuk meningkatkan kadar kharismatiknya. Dengan mengandalkan kharisma, seorang pemimpin yang “transformational” selalu menantang bawahannya untuk melahirkan karya-karya yang istimewa.

Langkah yang dilaksanakan pada umumnya adalah dengan membicarakan dengan pengikutnya, bagaimana sangat pentingnya kinerja mereka, bagaimana bangga dan yakinnya mereka sebagai anggauta kelompok dan bagaimana istimewanya kelompok sehingga dapat menghasilkan karya yang inovatif serta luar biasa.

Pemimpin transformational, seperti Lee Iacocca dari perusahaan automotif Chrysler atau Jack Welch dari General Electric (GE), adalah pemimpin-pemimpin yang kharismatik yang merangsang dan mengarahkan bawahannya untuk melakukan perubahan-perubahan di perusahaan mereka masing-masing.

Dalam merangsang perubahan dan inovasi, pemimpin tipe ini memberikan gambaran akan pentingnya melakukan sesuatu yang baru dan di atas standar yang direncanakan. Sehingga fungsi pemimpin adalah merangsang kreativitas dan pertumbuhan.

Menurut pencetus teori ini, pemimpin “transformational” adalah sangat efektif karena memadukan dua teori yakni teori “behavioral” dan “situational” dengan kelebihan masing-masing. Atau, memadukan pola perilaku yang berorientasi pada manusia atau pada produksi (employee or production-oriented) dengan penelaahan situasi ditambah dengan kekuatan kharismatik yang dimilikinya.

Tipe pemimpin transformational ini sesuai untuk organisasi yang dinamis, yang mementingkan perubahan dan inovasi serta bersaing ketat dengan perusahaan-perusahaan lain dalam ruang lingkup internasional. Syarat utama keberhasilannya adalah adanya seorang pemimpin yang memiliki kharisma.

Seorang pemimpin, menurut pengertian di atas, harus memadukan unsur-unsur kekuatan diri, wewenang yang dimiliki, ciri-ciri kepribadian dan kemampuan sosial untuk bisa mempengaruhi perilaku orang lain.

Ada pemimpin formal dan informal. Pemimpin formal, memiliki kekuasaan dan kekuatan formal yang ditentukan oleh organisasi. Sedangkan pemimpin informal, walaupun tidak merniliki legitimasi kekuatan dan kekuasaan resmi, namun memiliki kemampuan mempengaruhi yang besar, yang disebabkan oleh kekuatan pribadinya.

III. PENUTUP

Perkembangan jaman, perubahan lingkungan dan dinamika organisasi merupakan faktor-faktor yang dominan di dalam pemilihan gaya kepemimpinan yang tepat guna dan berhasil guna.

Teori kepemimpinan yang paling awal, mengkaitkan kepemimpinan dengan bakat dan kemampuan khusus yang dimiliki oleh seseorang yang diperoleh secara herediter dan kemudian diturunkan lagi ke anak-anaknya. The Great Man Theory, atau Born to be a leader adalah ungkapan-ungkapan yang mewakili teori ini.

Dengan demikian, maka kemampuan seorang pemimpin sudah terberi sejak lahir, tidak perlu dipelajari lagi. Dan efektivitas seorang pemimpin tergantung kwalitas karakter pemimpin. Pandangan berikutnya, kepemimpinan dihubungkan dengan dua dimensi pola perilaku pemimpin yakni “iniating structure” yang berorientasi pada produksi dan “consideration” yang berorientasi pada manusia. Pemimpin yang efektif adalah orang yang mampu memadukan kedua dimensi di atas.

Menurut pendekatan situasional, pemimpin yang efektif tergantung pada situasi khusus seperti hubungan antara pemimpin dan bawahan, struktur pekerjaan, kebutuhan bawahan serta tingkat kematangan dan kesediaan bawahan.

Saat ini, gaya kepemimpinan kontingensi (situasional) sangat populer karena lebih rasional, fleksibel dan bisa dipelajari serta diterapkan pada hampir segala situasi. Namun, akhir-akhir ini ada kecenderungan untuk menengok kembali pada “trait” atau karakter istimewa yang harus dimiliki oleh seseorang, misalkan kharisma.

John Kotter, mengatakan bahwa kepemimpinan yang efektif pada tingkat manajemen senior memerlukan pengetahuan yang luas tentang dunia usaha, kedekatan dengan bawahan, reputasi yang tak tercela, memiliki pengalaman yang kuat, integritas yang tinggi, enerjetik dan memiliki kemauan yang keras untuk memimpin.

Pemimpin tipe-tipe ini, juga harus mampu mengantisipasi kondisi yang akan datang, membangun citra perusahaan dan budaya korporat, serta mampu meningkatkan motivasi dan partisipasi yang optimal. Untuk menjadi pemimpin yang efektif di masa mendatang diperlukan persyaratan yang lebih komplek.